Setia pada Ilmu Hingga Purnatugas, Prof. Dr. I Dewa Putu Wijana Berpesan: “Teruslah Menulis”

Yogyakarta — Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada menggelar Pidato Valediktori Prof. Dr. I Dewa Putu Wijana, S.U., M.A., Jumat (11/9/2026), di Auditorium Poerbatjaraka lantai 3, pukul 14.30 WIB. Acara ini menandai purnatugas sang guru besar linguistik kelahiran Singaraja, Bali, 16 Agustus 1956, setelah mengabdi selama 43 tahun, termasuk 24 tahun sebagai guru besar di UGM. Acara ini dihadiri oleh keluarga besar, kolega, mahasiswa, hingga peserta Konferensi Internasional Kajian Linguistik. Sepanjang kariernya, Prof. Putu telah melahirkan berbagai karya penting di bidang linguistik dan pada 2023 tercatat sebagai salah satu dari 100 ilmuwan sosial terkemuka asal Indonesia di dunia.

Ketertarikan Prof. Putu pada bahasa dan sastra bermula sejak masa SMA. “Sejak saat SMA saya suka menulis puisi dan meraih juara harapan 1 di festival menulis puisi di Bali pada 1975, di situlah saya tertarik dengan sastra dan ingin menjadi penyair,” kenangnya. Minat itu kian mengerucut saat ia menempuh studi Sastra Indonesia di UGM pada 1976. “Saya mulai tertarik di ilmu bahasa, dan paling menarik adalah linguistik,” ujarnya. Ia pun mengenang topik disertasinya yang tak biasa: “Saya meneliti tentang wacana kartun untuk disertasi saya 1995. Mempelajari humor sangatlah menarik,” katanya.

Memasuki masa purnatugas, Prof. Putu mengaku telah siap menyambut babak baru dalam hidupnya. “Memang sudah usia saya, dan saya ingin menikmati masa pensiun saya dengan momong cucu,” ungkapnya. Meski demikian, ia menitipkan pesan penting bagi mahasiswa dan koleganya agar tak berhenti berkarya:

Setialah kepada ilmu Anda. Setia kepada ilmu yang Anda tekuni, terutama sebagai linguis. Bagi dosen, teruslah menulis, karena orang yang biasanya menulis mampu menyelesaikan permasalahan secara cepat sehingga dapat membimbing dan memberi jalan keluar bagi mahasiswa yang dibimbingnya.

Dalam sambutannya, Prof. Putu mengutip pemikiran Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh sepandai apapun ilmunya, kalau orang tidak menulis maka kepandaiannya tidak akan terlihat,” serta peribahasa Latin verba volant, scripta manent yang bermakna ucapan akan hilang sementara tulisan akan abadi. Ia turut menyinggung bidang linguistik forensik yang digelutinya. “Kerja keras untuk hasil yang hebat,” tuturnya, sembari menekankan pentingnya mengerjakan sesuatu secara perlahan, serius, dan ikhlas.

Ucapan selamat dan kesan pesan turut disampaikan Prof. Dr. Faruk Tripoli, S.U., Prof. Dr. Setiadi, S.Sos., M.Si., Kity Karenisa, S.S., M.A., dan Dr. Hayatul Cholsy, S.S., M.Hum. Mereka mengucapkan selamat atas purnatugas Prof. Putu, berharap beliau terus menulis dan menginspirasi, serta menyampaikan terima kasih karena telah membuat dunia kebahasaan menjadi menyenangkan untuk ditekuni. Sementara itu, dosen dan mahasiswa lain yang hadir menyebut Prof. Putu sebagai “linguis humoris, tekun, dan produktif.” Acara yang turut dihadiri murid, kolega, dan keluarga besar ini juga ditandai peluncuran tiga buku karya beliau, yaitu Renik-Renik Linguistik, Linguistik Forensik, dan Kumpulan Humor Prof. Putu. Menutup acara, Prof. Setiadi mengutip kembali perkataan Prof. Faruk, “Kita akan dikenang kalau kita menulis.” 

Segenap Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia turut mengucapkan selamat memasuki masa purnatugas kepada Prof. Dr. I Dewa Putu Wijana, S.U., M.A. Semoga semangat, dedikasi, dan karya-karya beliau senantiasa menginspirasi generasi penerus untuk terus setia menekuni dan mengembangkan ilmu kebahasaan. 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*