Yogyakarta — Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM), berkolaborasi dengan Festival Sastra Yogyakarta (FSY) telah sukses menyelenggarakan rangkaian acara bertajuk “LAKU” di Taman Budaya Embung Giwangan pada 23–30 Agustus 2026. Festival ini menghadirkan civitas akademika Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia UGM bersama para akademisi, sastrawan, dan komunitas sastra di Yogyakarta dalam berbagai kegiatan mulai dari orasi budaya, seminar nasional, diskusi sastra lisan, musikalisasi puisi, hingga haul untuk mengenang para sastrawan Jogja.
Festival dibuka pada Hari 1 (Minggu, 23 Agustus 2026) dengan Orasi Budaya bertema “Sastra Sebagai Laku Akademik & Laku Hidup” yang disampaikan oleh Prof. Dr. Faruk, S.U., guru besar sekaligus civitas akademika Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia UGM, di Panggung Teras.
Pada Hari 2 (Senin, 24 Agustus 2026), panggung yang sama menampilkan Musikalisasi Puisi dari SMAN 1 Depok, Tulalit, dan Sekolah Puisi Jogja, dipandu oleh MC Annida Maysa Deena — momen yang menegaskan keterlibatan generasi muda dalam merawat sastra.
Memasuki Hari 5 (Kamis, 27 Agustus 2026), agenda berlanjut dengan dua sesi penting. Pagi hari di Ruang Wijaya Kusuma digelar Seminar Nasional “Sejarah Sastra Indonesia Modern: Antara Kanon dan Komunitas” bersama Kurator FSY 2026, Dr. Phil. Ramayda Akmal, M.A., yang juga merupakan dosen Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia UGM, berdampingan dengan Mahfud Ikhwan dan Muhamad Ilfan Zulfani. Siang harinya, diskusi “Kerentanan Manusia, Ketangguhan Sastra” digelar di Panggung Pasar Sastra bersama Tesalonika Maria Kaynna Kersaning Gusty dan Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, mengangkat isu ketahanan manusia melalui lensa kesusastraan.
Pada Hari 6 (Jumat, 28 Agustus 2026), festival kembali menghadirkan dua agenda: sesi sore bertema “Sastra Lisan: Performa dalam Sastra Lisan antara Komunikasi, Ritual, dan Etika” bersama Dr. Novi Siti Kussuji Indrastuti, M.Hum., dosen Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia UGM, dan Arif Kurniawan; disusul malam harinya dengan “Haul Para Sastrawan Jogja” bersama Saeful Anwar, S.S., M.A., sebagai bentuk penghormatan kepada para sastrawan yang telah berpulang.
Kolaborasi ini tak sekadar merayakan karya sastra, tetapi juga selaras dengan beberapa pilar Sustainable Development Goals (SDGs). Seminar nasional, orasi budaya, dan diskusi akademik yang menghadirkan civitas akademika Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia UGM memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan kesastraan di luar ruang kelas sekaligus melibatkan pelajar SMA lewat musikalisasi puisi, sejalan dengan semangat SDG 4 tentang pendidikan berkualitas; digelarnya acara di ruang publik Taman Budaya Embung Giwangan turut memperkuat fungsi ruang kota sebagai ruang budaya dan mendukung pelestarian warisan tak benda seperti sastra lisan, sebagaimana diamanatkan SDG 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan; forum-forum diskusi seperti “Kerentanan Manusia, Ketangguhan Sastra” membuka ruang dialog inklusif bagi semua kalangan tentang isu kerentanan sosial, mencerminkan SDG 10 dan SDG 16 mengenai pengurangan kesenjangan serta perdamaian dan kelembagaan yang tangguh; sementara sinergi antara civitas akademika UGM, komunitas FSY, sekolah-sekolah, dan para sastrawan independen menjadi contoh nyata kemitraan lintas sektor sebagaimana dicita-citakan SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan.
Melalui tema besar “Laku”, festival ini berhasil mengajak publik memaknai sastra bukan hanya sebagai wacana, tetapi sebagai tindakan nyata dalam kehidupan akademik, sosial, dan keberlanjutan budaya bangsa.
📍 Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta | 🗓️ 23–30 Agustus 2026
[Penulis: G. Nathania Yolanda]