Yogyakarta, 5 Juni 2026 — Di Ruang Soegondo 226-227, Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan diskusi bertajuk “Seputar Fiksi di Malaysia” pada Jumat, 5 Juni 2026, pukul 13.00 WIB. Prof. Dr. Noriah Mohamed hadir sebagai narasumber untuk diskusi di kelas mata kuliah Penulisan Kreatif.
Diskusi dibuka bukan dengan kata-kata biasa, melainkan dengan lantunan puisi berjudul “Aku dan Jawa Terpisahkan”. Dari sana, Prof. Dr. Noriah Mohamed membawa peserta menyusuri arus panjang kesusastraan Melayu. Pembahasan dibuka dengan membahas karya-karya Ranggawarsita hingga berkembangnya sastra di Malaysia. Sejumlah istilah khas bahasa Melayu turut diperkenalkan, membuka ilmu baru yang tersimpan dalam bahasa serumpun ini. Narasumber pun memperkenalkan karya-karyanya sendiri, dari bait-bait puisi hingga lembaran biografi.
Dalam sesi yang hangat, narasumber menguraikan bahwa menulis karya fiksi sejatinya adalah sebuah proses visualisasi rasa. Beliau juga menjelaskan mengapa pantun-pantun Melayu banyak yang bertema hewan. Jawabannya karena diajak untuk melatih kepekaan dalam menemukan makna tersembunyi dalam hal-hal kecil di sekitar, termasuk perilaku hewan.
Diskusi semakin dalam ketika narasumber mengajak para peserta menelusuri bagaimana agama Islam turut membentuk sastra Melayu sejak masa awal penyebarannya di Malaysia. Dari sana, peserta diajak melihat sebuah kisah dari perspektif yang berbeda.
Sebagai penutup, narasumber meninggalkan sebuah gagasan: bahwa dalam sastra, bahkan benda mati pun dapat diberi nyawa. Ia dapat dihidupkan, dimanusiakan. Sastra, pada akhirnya, adalah sebuah pengingat bahwa kreativitas tidak mengenal batas.
Kegiatan diskusi ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas, melalui penguatan wawasan lintas budaya dan kesusastraan bagi mahasiswa. Selain itu, kolaborasi keilmuan antara Universitas Gadjah Mada dan akademisi dari Malaysia ini juga mencerminkan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, sebagai wujud kerja sama internasional dalam bidang pendidikan dan kebudayaan. Melalui pengenalan sastra dan aksara Melayu-Jawi, diskusi ini juga berkontribusi pada SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan, dengan mempererat pemahaman dan penghormatan terhadap keberagaman budaya serumpun di kawasan Asia Tenggara.
[Penulis: G. Nathania Yolanda]