Yogyakarta — Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM), menjadi tuan rumah Seminar Internasional Pertemuan Ilmiah Bahasa dan Sastra Indonesia (PIBSI) ke-48 yang diselenggarakan pada 5–6 Oktober 2026 di Crystal Lotus Hotel, Yogyakarta. Mengusung tema “Bahasa dan Sastra Indonesia di Era Humaniora Digital” (Indonesian Language and Literature in the Era of Digital Humanities), seminar ini diikuti oleh sekitar 130 peserta dari 47 perguruan tinggi dan lembaga serta menghadirkan sekitar 120 abstrak makalah yang membahas berbagai persoalan bahasa, sastra, dan humaniora digital. Keterlibatan peserta dari berbagai institusi diharapkan dapat memperluas pertukaran gagasan dan memperkuat jejaring akademik di bidang bahasa dan sastra Indonesia.
Seminar dibuka dengan sambutan Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia UGM, Dr. Novi Siti Kussuji Indrastuti, M.Hum., dan Ketua Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia UGM, Prof. Dr. Suhandano, M.A. Rangkaian pembukaan turut dimeriahkan oleh penampilan Tari Sekar Pudyastuti yang memperkenalkan kekayaan seni tradisional Yogyakarta sebagai bagian dari budaya Jawa. Agenda ilmiah kemudian dilanjutkan dengan sesi pleno pertama yang menghadirkan Prof. Dr. Suhandano, M.A. dan Dr. David Moeljadi, serta Prof. Dr. Jan van der Putten, Mag. Dr. Stefan Kutzenberger, dan Dr. Will Derks. Diskusi dalam sesi ini dimoderatori oleh Dr. Sailal Arimi, M.Hum. dan Arie Tri Bowo, M.A. sesuai kelompok pemaparan.
Selain sesi pleno, seminar menyelenggarakan presentasi makalah dalam enam sesi panel paralel yang tersebar di empat ruang. Presentasi berlangsung selama dua hari dan menjadi wadah bagi para pemakalah untuk menyampaikan hasil penelitian serta bertukar gagasan mengenai beragam persoalan bahasa, sastra, dan humaniora digital. Isu yang dibahas mencakup sastra siber, pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI), serta digitalisasi naskah dan arsip. Di sela-sela rangkaian kegiatan, pimpinan program studi anggota PIBSI juga mengadakan pertemuan untuk membahas keberlanjutan forum ilmiah tersebut. Dalam pertemuan itu, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ditetapkan sebagai tuan rumah PIBSI ke-49.
Pada hari kedua, seminar dilanjutkan dengan sesi pleno kedua yang menghadirkan Leon Woltermann, M.A. dari National University of Singapore, Prof. Dr. Wiyatmi, M.Hum. dari Universitas Negeri Yogyakarta, Prof. Dr. Faruk, S.U. dari Universitas Gadjah Mada, dan Dr. Anabel Teh Gallop dari British Library. Sesi yang dimoderatori oleh Arie Tri Bowo, M.A. ini dilengkapi dengan tanya jawab antara pembicara dan peserta. Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia UGM, Dr. Novi Siti Kussuji Indrastuti, M.Hum., menekankan pentingnya tanggung jawab dalam pemanfaatan teknologi digital. “Seminar ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman terhadap perkembangan kajian bahasa dan sastra Indonesia dalam perspektif humaniora digital, sekaligus menambah wawasan, memperkuat dokumentasi, mengembangkan komunikasi, dan mendorong kreativitas. Namun, pemanfaatan teknologi digital dalam berbagai aspek tersebut perlu senantiasa disertai dengan tanggung jawab dalam penerapannya,” ujarnya. Seluruh rangkaian kegiatan didukung oleh panitia yang terdiri atas tenaga kependidikan dan mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia UGM, kemudian ditutup sebagai penanda berakhirnya seminar selama dua hari.
Penyelenggaraan Seminar Internasional PIBSI ke-48 diharapkan dapat memperluas jejaring akademik, mendorong kolaborasi penelitian, serta memperkuat pengembangan kajian bahasa dan sastra Indonesia dalam menghadapi perkembangan teknologi digital. Kegiatan ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals atau SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui pertukaran pengetahuan, SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pembahasan transformasi digital, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kerja sama lintas institusi dan negara. Melalui forum ini, UGM berharap kajian bahasa dan sastra Indonesia terus berkembang secara kritis dan inovatif tanpa mengesampingkan nilai-nilai budaya.