Yogyakarta, 23 Mei 2024 — Ketika mendengar kata “mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia”, bayangan umum yang sering muncul adalah sosok kutu buku, ahli puisi, atau mereka yang lihai merangkai kata-kata dengan diksi menawan. Stereotip tersebut seakan sudah melekat kuat di benak masyarakat, seolah membaca adalah kegiatan rutin yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka.
Namun, apakah anggapan tersebut benar adanya?
Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia memang erat kaitannya dengan karya sastra, terutama dalam bentuk cetak. Tak heran, publik mengira bahwa mahasiswanya pasti rajin membaca di luar tuntutan akademik. Untuk menjawab pertanyaan ini, KMSI UGM (Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada) melakukan survei terhadap 60 mahasiswa aktif dari program studi tersebut.
Survei ini mengungkap data yang cukup mengejutkan: sebanyak 86,7% responden mengaku membaca kurang dari empat buku (di luar buku perkuliahan) setiap bulannya. Hanya 13,3% yang membaca lebih dari empat buku dalam sebulan. Angka ini tentu menggugurkan anggapan bahwa mahasiswa Sastra Indonesia adalah pembaca aktif yang konsisten membaca dalam jumlah besar.
Lebih lanjut, ketika ditanya tentang frekuensi membaca buku secara umum, sebanyak 53,3% mahasiswa mengaku hanya kadang-kadang membaca. Sebanyak 21,7% mengaku jarang, dan hanya 8,3% yang menyatakan bahwa mereka sering membaca. Sisanya bahkan tergolong sangat jarang membaca buku.
Mengapa mahasiswa Sastra Indonesia, yang notabene bergelut di dunia literasi, justru jarang membaca di luar kewajiban kuliah? Jawaban mayoritas dari survei ini adalah: kelelahan.
Sebanyak 68,3% responden mengaku bahwa kelelahan akibat padatnya tugas kuliah menjadi alasan utama mereka jarang atau tidak sempat membaca. Disusul oleh alasan tidak memiliki waktu luang (40%), dan sebagian kecil lainnya menyebut malas, kehilangan minat, atau kesulitan membaca dalam waktu lama.
Data ini seolah memaksa kita untuk kembali merefleksikan ekspektasi terhadap mahasiswa sastra. Bahwa mereka adalah pembaca ulung mungkin tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak selalu benar. Realita akademik yang penuh tuntutan dan intensitas bacaan wajib dalam perkuliahan justru membuat sebagian mahasiswa kehilangan ruang dan tenaga untuk menikmati bacaan secara personal.
Literasi bukan hanya soal kuantitas buku yang dibaca, melainkan juga tentang bagaimana seseorang meresapi dan mengolah bacaan menjadi pemahaman yang lebih dalam. Maka, alih-alih mempertahankan stereotip, kita perlu memberikan ruang yang lebih luas bagi mahasiswa untuk mendefinisikan literasi menurut konteks dan kemampuan mereka sendiri.